Suka Duka Mendaki Di Puncak Cartensz Papua

Suka Duka Mendaki Di Puncak Cartensz Papua

Puncak Carstensz tak hanya jadi destinasi impian pendaki Indonesia. Para pendaki profesional dari berbagai negara berlomba-lomba menyambangi Pegunungan Sudirman Taman Nasional Lorentz, Papua, demi menggapai puncak tertinggi di lempengan Australasia itu. Sofyan Arief Fesa adalah salah satu pendaki yang pernah berdiri di Puncak Carstensz. Ini adalah pendakian pertamanya sebelum merampungkan 7 puncak tertinggi sedunia (World Seven Summits) tahun 2009-2011. Pendakian tersebut berlangsung pada Februari 2009, sebenarnya pendakian tersebut tidak sengaja karena tujuan utamanya observasi dan eksplorasi di daerah barat Carstensz. Ada penelitian flora-fauna hampir 1 bulan, kemudian mendaki Carstensz.

sumber : travel.kompas.com
sumber : travel.kompas.com

Saat para pendaki Indonesia pertama kali mendaki Puncak Carstensz Pyramid, posisi pegunungan es kebanggaan Tanah Air kita belumlah sekondang sekarang. Kini ia menjadi salah satu idaman para pendaki dunia, karena termasuk dalam rangkaian The Seven Summits. Tujuh puncak tertinggi di lempengan benua, bersama Mount Everest (Asia), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Mckinley (Amerika Utara), dan Vinson Massif (Antartika). Karena letak dan akses yang sulit itulah, Carstensz menjadi salah satu gunung termahal di dunia. biaya pendakiannya mencapai 1.800 dolar AS atau sekitar Rp18 juta.

Pendakian tersebut, kisah Sofyan, bertujuan untuk mengganti tali yang membentang sepanjang basecamp menuju puncak. Ia menuju puncak bersama 7 orang anggota tim ekspedisi, lewat jalur Freeport di Timika.

sumber : rainieradventure.blogspot.com
sumber : rainieradventure.blogspot.com

“Waktu itu 35-40 hari, belum ada sponsor apa-apa jadi peralatan seadanya. Pakai jaket yang katanya anti air, padahal nggak anti air sama sekali. Apalagi tiap hari hujan terus!” kisah Sofyan. Ya, saat itu matahari hanya muncul sekitar 30 menit dalam sehari. Sisanya, lanjut Sofyan, hujan bahkan badai salju. Dari basecamp menuju puncaknya pun treknya sangat sulit. Tak hanya butuh keahlian hiking, tapi juga rock climbing. “Ada beberapa teknik yang dibutuhkan seperti ascending dan descending, single rope, dan scrambling. Apalagi dari Yellow Valley alias basecamp sebelum puncak, waktunya 4-5 jam mendaki tebing batu kemiringan 80 derajat,” paparnya.

Selain Sofyan, anggota lain Mahitala Universitas Parahyangan yang juga ikut dalam ekspedisi Pegunungan Sudirman waktu itu adalah Saverius Frans. Di usianya yang ke 26, Frans sudah menaklukkan 7 puncak dunia alias World Seven Summits. “Waktu mendaki Carstensz, lebih banyak suka daripada dukanya. Ini adalah pendakian pertama dari 7 puncak dunia, banyak hal baru yang ditemukan. Sudah jalan berpuluh hari, bersama orang-orang yang sama, semua duka tampaknya jadi suka,” tutur Frans. Kalaupun ada hal yang tidak biasa, lanjut Frans, paling-paling adalah tidak mandi selama sebulanan. Apalagi dengan kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat. Matahari jarang muncul, hujan dan badai selalu menerjang.

Sumber :

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/01/gunung-termahal-dunia-di-carstensz-pyramid-papua

http://travel.detik.com/read/2013/09/12/162445/2357174/1520/suka-duka-para-pendaki-menggapai-puncak-carstensz

Berikan rating?